Hal yang wajar setiap
dari kita ingin kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Pasti semua orang di
dunia ini mendambakan hidup bisa berjalan sesuai dengan apa yang dipikirkan;
teratur, rapih, bahagia, aman, dan disenanagi semua orang. Tidak ada konflik,
permusuhan, atau pun perseturuan dengan siapa pun. Tidak ingin dibenci apalagi
disakiti. Tetapi sebaliknya ingin dikagumi, disukai, dan ingin dicinta semua
orang. Kedua sisi yang berlawanan ini;
cinta dan benci, ternyata tidak akan pernah bisa berpisah. Ibarat mata uang
kedua sisi tersebut pasti selalu bergandengan. Kalau ada yang mencintai, pasti
disisi lain ada yang membenci. Ada yang kita cinta dan juga ada yang kita
benci. Benci selalu lahir dan tumbuh karena ada banyak faktor yang tidak bisa
kita cegah bahkan kita hindari. Dalam kenyataanya, manusia memang lebih memilih
hatinya dipenuhi kesenangan dan kebaikan. Lebih senang dicintai tepatnya.
Dicintai memang fitrah
dasar seorang manusia. Dicintai atau dikagumi banyak orang tentu sebuah kenikmatan
yang tidak ternilai. Ibaratnya seperti seorang wanita yang senang memiliki
banyak fansnya. Hal itu lumrah adanya, karena kita merasa nyaman, tenang, dan
aman bersama mereka. Bebas dari pergunjingannya, jauh dari kebenciannya, dan
selalu dekat persahabatanya. Tidak salah bila memang ada pepatah yang
menyebutkan ‘1 Musuh lebih banyak daripada 1000 teman’. Dari pepatah tersebut
setidaknya kita bisa berpikir dengan mudah, mempunyai musuh itu ga enak dan
membuat ga nyaman. Sebab itulah kita selalu berusaha menyenangkan hati setiap
orang yang kita kenal; menjaga perangai
(akhlak) baik itu ucapan, perilaku, perasaan, sikap dan sifat yang tidak
disukai.
Namun terbersit
pertanyaan, apakah iya kita bisa? Menyenangkan hati semua orang barangkali merupakan
hal yang nyaris tidak mungkin. Sekuat apapun usaha yang kita lakukan. Sekeras
apapun pencitraan diri yang kita tampilkan. Senyata apapun kebenaran yang kita
sampaikan. Dan sejelas apapun persolan yang kita utarakan. Pasti kita tidak
akan mampu menyenangkan semua orang. Sebab setiap manusia memiliki selera yang
berbeda, emosi yang tidak sama, dan tingkat pengetahuan yang beragam. Artinya
manusia itu memiliki karakteristiknya masing-masing. Semuanya tidak ada yang
sama, sekali pun dua anak kembar yang lahir dari satu sel. Misalnya seperti
kita memahami seorang wanita. Misalnya bagaimana memahami ibu kita tentu
berbeda dengan bila kita memahami pasangan kita. Ada cara, ada perlakuan, dan
ada sense tersendiri yang berbeda. Yang terkadang bila
kita melakukan cara ‘ini’ ibu kita suka, namun pasangan kita belum tentu suka
bahkan menerima. Sebab itu juga kita tidak bisa menyemaratakan perlakuan kita
terhadap orang lain. Keberagaman itu adalah bagian dari fitrah penciptaan dan
fitrah keindahan (QS. Al-Lail: 4). Keragaman itulah yang melahirkan keindahan,
keserasian, dan keharmonisan. Maka menghendaki atau memaksakan satu keinginan
saja sama artinya kita menolak akan hadirnya benih-benih cinta dan justru hanya
menebar kebencian. Kebencian akan selalu ada, selagi ada yang menghendaki
kesamaan. Kebencian akan selalu hadir, selagi ada yang menghendaki perubahan.
Dan kebencian akan selalu datang selagi ada cinta yang ditebar.
Sudah
seharusnya, kita selalu menyediakan ruang untuk (siap) dibenci.
Setiap kita harus belajar
memberi ruang di dalam diri kita, atas segala kebencian yang mungkin datang
dari orang lain. Ruang ketidaksukaan, ketidakcocokan, dan ruang
ketidaknyamanan. Tidak ada orang di dunia yang luput dari kebencian. Tetapi
alat ukurnya harus jelas, bagaimana kita membedakan antara apa yang kita jalan
kan memang benar sesuai track yang
ada, tetapi orang lain tidak mengetahuinya atau membencinya. Dan bukan karena
kita memang melakukan kesalahan fatal yang layak dibenci bahkan dihukum.
Mudahnya ialah, kita siap dibenci orang lain asalkan kita tetap berada dalam
jalur kebenaran, tidak melanggar ajaran agama, tidak melanggar kesepakatan
(hukum) yang baik yang tidak saling merugikan. Setidaknya hal ini akan memberi
kita sistem pertahanan diri yang baik, ketahanan diri yang baik. Sampai kapan
pun, kita tidak akan bisa memenuhi hajat hidup semua orang. Kita tidak akan
bisa menyenangkan semua orang. Kita tidak akan bisa mengubah semua orang untuk
satu pikiran dan satu pandangan dengan kita.
Memberi ruang di dalam
diri untuk mereka yang membenci kita, tidak sama dengan bersikap pasrah atau
bahkan angkuh atau arogan. Sombong atau congkak bukan perilaku yang berjiwa
besar. Memberi ruang dalam diri untuk siap dibenci maksudnya ialah memberi
tempat penampungan, agar kebencian itu terserap di dalam ruang itu lalu
tersikapi dengan lebih baik. Ingat kita manusia, sampai kapan pun kita tidak
akan bisa tampil sempurna. Kita punya kekurangan, keburukan, bahkan aib. Kita
juga bukan robot atau hewan. Kita memiliki akal dan rasa. Pasti kita bisa
merasakan orang lain membenci kita. Rasa bila orang lain membenci kita atas
ketidaksempurnaan kita, kekurangan kita, sikap kita, atau perangai kita yang
tidak bisa diterima orang lain. Terkadang kita sudah melakukan hal-hal yang
wajar saja orang masih mengomentari kita. Padahal kita tidak berbuat yang
menggangu atau mengusik dia, tetapi masih saja orang mengomentari kita bahkan
mencela kita. Entah dari pakaian kita, penampilan kita, bahkan dari fisik kita.
Begitulah realita kehidupan, tidak pernah menyediakan ruang bebas cela.
Karenanya bila sudah tau seperti itu, sebelum kita mendapat celaan itu sediakan
selalu ruang di hati untuk dicela. Tidak apa dicela itung-itung sebagai sarana
mengurangi kesalahan dan mengapus dosa-dosa yang ada pada kita. Selanjutnya
bila kita menyadari semua orang bisa mencela dan membenci sudah sangatlah
pantas jika kita selalu menyediakan ruang dalam hati ini untuk (siap) dibenci,
karena kita bukan manusia yang sempurna. Banyak kekurangan pada diri kita yang
mungkin saja tidak disukai oleh orang lain.
Tanpa ada ruang kita
sediakan atau mampu kita sediakan untuk kebencian orang lain kepada kita. Kita
akan akan menjadi sangat reaktif, membalas kebencian dengan kebencian. Yang
penting membalas aja biar puas. Bahkan celakanya tidak sedikit yang melawan
kebencian dengan perilaku yang lebih buruk dari kebencian itu sendiri. Terus
timbul pertanyaan bagaimana kita menyikapi orang yang membenci kita? Bahkan
sangat benci dengan kita? Ini memang
soal pilihan. Sepenuhnya dikembalikan kepada model kepribadian yang akan kita
ambil. Setidaknya ada tiga model dalam menyikapi kebencian orang lain kepada
kita (Tarbawi, 25/6/2009). Tiga model
tersebut ialah; klarifikatif, reaktif,
dan adaptif. Dalam hal ini jujur saya
juga secara pribadi masih banyak belajar untuk (siap) dibenci orang lain. Terkadang
kebanyakan kita bila ada orang yang membenci, kita sibuk untuk mengklarifikasi.
Siapa saja yang tidak suka apalagi benci, merasa semua harus ia luruskan dan
jelaskan secara runut. Orang-orang seperti ini disebut klarifikatif, pasti orang-orang seperti ini akan sangat lelah.
Orang seperti ini menolak ketidaksempurnaan pada dirinya. Maka ia bisa tertipu,
bahkan celakanya kita tidak boleh salah. Maka ia tidak pernah tahu cara
memaafkan diri sendiri. Ia akan menghabiskan banyak waktu membangun pencitraan,
kesempurnaan, menyibukkan, dan menyulitkan diri dengan klarifikasi semua
pembelaan. Padahal sih tidak semua kebencian orang kepada diri kita harus kita
hadapi pembelaan.
Bila orang-orang tipe reaktif,
biasa menyikapi segala kebencian orang lain dengan reaksi. Ada aksi ada reaksi,
ketika orang lain beraksi membenci kita, maka kita akan bereaksi membalas
kebencian itu. Bisa saja reaksi itu sangat keras atau bahkan lebih keras. Ia
akan menampakkan dengan sangat, betapa ia tidak bisa menerima kebencian orang
lain ia sekuat tenaga akan melampiaskan kebenciannya secara frontal. Namun bila
kita memiliki ruang untuk menampung kebencian orang lain, kita akan menjadi
orang-orang yang adaptif. Kita bisa
mengadaptasi secara baik segala ketidaksenangan orang lain ke dalam diri kita.
Selama kita memang yakin tindakan kita sesuai dengan track yang ada atau berada
dalam koridor yang semestinya. Di ruang itu kita bisa menampung, lalu mencerna
kebencian orang lain dan sesudah itu hembuskan lagi menjadi udara, yang akan
keluar bersama nafas-nafas kita. Sebab pada ending-nya
nanti, ini bukan sekedar semata-mata hanya dipuji atau dibenci yang penting
bagi kita, tetapi diatas dasar pijakan apa kita berdiri, Setelah itu di jalan
mana kita mengambil sikap.
Manusia pasti memiliki
keterbatasan. Tidak semua hal bisa terjangkau olehnya hanya dengan sebatas
usaha manusia semata. Wajar jika memang manusia menginginkan apapun yang
diharapkan, termasuk dicintai dan disengangi. Namun disisi lain kita juga tidak
menafikkan akan kekurangan kita dan keberagaman manusia yang pada nantinya
berjalan tidak sesuai kehendak. Kebencian pasti akan selalu datang, selama kita
menyemai cinta dan kebaikan. Namun yang terpenting bagaimana kita bisa
menyiapkan ruang penampungan untuk (siap) dibenci oleh siapa pun dan kapan pun.
Kita harus tetap bertumbuh, bertambah, dalam diri kita kebaikan, hari demi
hari. Tetapi bersama semua itu, kita harus punya ruang untuk kebencian
orang-orang yang membenci kita. Lalu membuangnya bersama hembusan nafas-nafas
kita secara santai. Kebencian orang lain pada kita membutuhkan penerimaan yang
tulus, ikhlas, dan sabar. Bukan penerimaan yang sengaja diciptakan, dengan
membuat orang lain untuk selalu membenci kita agar kita mendapatkan kebaikan
dari perlakuan buruk mereka. Bukan itu. Memadamkan api kebencian tidaklah
mudah. Karena itulah, dihati ini alangkah indahnya bila ada ruang yang tersedia
untuk menerimanya. Tetapi yang lebih penting setelah itu, kebenciaan itu bisa
kita lebur dengan kata maaf dengan senyuman yang menghiasi. Silahkan orang mau
membenci kita dengan alasan yang jelas dan maupun tidak jelas. Silahkan orang
tidak suka denga kita. Silahkan orang tidak cocok dengan kita. Itu memang hak
dia. Yang pasti dengan kebencian itu, kita harus belajar memfirasati kesudahan
benci yang datang dari siapapun. Agar yang tampak pahit hari ini, tidak serta
merta kita acuhkan bahkan kita campakkan. Sebab boleh jadi itu merupakan sarana
kita untuk dinaikkan derajatnya oleh yang Maha Kuasa. Wallahu a'lam Bish-shawab
Saya suka sekali dengan tulisan anda.. Pengalaman saya sendiri memang seperti itu juga sering dibenci karena berbeda.. saya sih enggak pusing ya bodo amat selama sikap kita masih dalam zona yang positif, tidak merugikan orang lain secara nyata & kitanya bahagia,, so what? Suka atau tidak suka itu masalah mereka,,
BalasHapus